Jalan

TEACHING MIND - TOUCHING HEART - TRANSFORMING LIFE

Pages

 

Minggu, 19 Februari 2012

PEKAN ORIENTASI

0 komentar
PEKAN ORIENTASI
FRATRES TAHUN ORIENTASI ROHANI
LO’O DAMIAN EMAUS
ANGKATAN TAHUN 2011 - 2012

Hari Rabu, 03 Agustus 2011
05.00. Bangun pagi dan urus diri/siap diri
05.30. Doa Pagi
06.00. Misa Pagi
07.00. Makan Pagi
08.00. Pembukaan Hari Orientasi: Rm. Yance Laka, Pr.
09.15. Istirahat
09.30. Selamat datang dan Orientasi TOR Lo’o Damian: Rm. Hery Fernandez, Pr.
11.00. Rekap: Rm. Yance Laka, Pr.
12.00. Angelus – Doa Siang: Ditangggung per kelompok.
12.30. Makan siang.
13.00. Siesta
15.00. Bangun – Urus diri – visitasi pribadi
15.30. Kerja
17.00. Berhenti – Urus diri
18.00. Tatatertib TOR: Rm. Yance Laka, Pr.
19.00. Makan Malam
20.15. Latihan Doa Brevir: Rm. Primus Lake, Pr + Sipri Tes Mau, Pr.
22.00. Tidur malam

Hari Kamis, 04 Agustus  2010

05.00. Bangun pagi dan urus diri
05.30. Doa Pagi
06.00. Misa Pagi
07.00. Makan Pagi
08.00. Rekap hari Selasa
08.15. “Aturan Harian TOR”: Rm. Primus Lake, Pr.
09.15. Istirahat
09.30. Etiket dan  Kerja: Rm. Sipri Tes Mau, Pr.
12.00. Angelus – Doa Siang: Ditangggung kelompok.
12.30. Makan siang.
13.00. Siesta
15.00. Bangun – Urus diri – visitasi pribadi
15.30. Kerja
17.00. Berhenti dan siap diri
18.00. Tata Tertib TOR: Rm. Yance Laka, Pr.
19.00. Makan Malam
20.15. Lanjutan Latihan Doa Brevir: Rm. Primus Lake, Pr. + Rm. Sipri Tes Mau, Pr
22.00. Tidur malam

Hari Jumat, 05 Agustus 2011

05.00. Bangun pagi dan urus diri
05.30. Doa Pagi
06.00. Misa Pagi
07.00. Makan Pagi
08.00. Rekap
08.15. Kurikulum TOR: Rm. Yance Laka, Pr.
10.00. Istirahat
10.15. Penjelasan Tugas Pengurus (Ketua Kelas dan Seksi-Seksi)
            Fratres TOR: Rm. Primus dan Rm. Sipri Tes Mau, Pr.
12.00. Angelus – Doa Siang: Ditangggung kelompok.
12.30. Makan siang.
13.00. Siesta
15.00. Bangun – Urus diri – visitasi pribadi
15.30. Kerja
17.00. Berhenti dan Urus diri
18.00. Penjelasan tentang Tugas-Tugas Mandiri selama di TOR: Rm. Yance Laka, Pr
19.00. Makan Malam
20.15. Lanjutan latihan Doa Brevir: Rm. Primus Lake, Pr. + Rm. Sipri Tes Mau, Pr.
22.00. Tidur malam – listrik padam di kamar tidur.

Sabtu, 06 Agustus 2011
05.00. Bangun pagi dan urus diri
05.30. Doa Pagi
06.00. Misa Pagi
07.00. Makan Pagi
08.00. Kerja
09.30. Istirahat
10.30. Latihan Koor
12.00. Angelus – Doa Siang: Ditangggung kelompok.
12.30. Makan siang.
13.00. Siesta
15.00. Bangun – Urus diri – visitasi pribadi
 (Jadwal selanjutnya akan diatur  oleh Rm. Preses sesuai program rekoleksi pembukaan)

Minggu, 07 Agustus 2011
Kegiatan Pekan Orientasi ini ditutup dengan “Misa Pembukaan Tahun Pembinaan Fratres Tahun Orientasi Rohani Lo’o Damian Emaus Angkatan  tahun 2011-2021

Mengetahui:                                                                TOR Lo’o Damian, 01 Agustus 2011
Praeses TOR                                                                 Koordinator Pekan Orientasi


(Rm. Gerard Fernandez, Pr.)                                      ( Rm. Yance Laka, Pr.)          

Read more...

Kamis, 16 Februari 2012

IN MEMORIAM: MY DAD, MY HERO, MY VALENTINE

0 komentar
IN MEMORIAM: MY DAD, MY HERO, MY VALENTINE
 “Pagi hari itu 14 Ferbruari 1996...ayah yang semalam bergulat dengan maut antara sadar dan tidak sadar...tertidur pulas. Ibunda senang karna itulah saat pertama dia melihat ayah begitu lelap tidurnya...makanya ibunda memberanikan dirinya kembali ke rumah untuk melihat keadaan rumah dan adik adik yang “dibiarkan mengurus diri” sejak ayah masuk rumah sakit”. Ibupun berangkat ke rumah...saya yang bertugas menggantikan ibu mendampingi ayah...karena melihat ayah tertidur begitu pulas...saya tak mau mengganggu beliau...”. Tak lama datanglah seorang imam yang kami minta untuk mendoakan ayah...” Ibuku sudah kembali dari rumah...ketika saya hendak menyalakan lilin hendak memulai ibadat...ibunda mencoba menyentuh kaki ayah hendak membangunkannya...ternyata tak ada reaksi sedikitpun...seorang teman romo lain yang datang hendak berkunjung mencoba mencubit kaki dan tangan ayah sekuat tenaga...tak ada reaksi..ibunda mulai panik...saya memanggil perawat dan mencoba memeriksa denyut nadi ayah...sang perawat hanya melihat alatnya tak berkedip dan memandang ke saya dengan penuh arti...saya paham...saya tahu..arti tatapannya itu...untuk memastikan kondisi terakhir ayah...sang perawat tanpa kata kata memanggil dokter yang bertugas..setelah memeriksa seperlunya...dokter itu lagi lagi memandang ke saya...ibundapun tahu dan menetapa saya dan berurai air mata berujar: “ anak...bapak sudah pergi.....”!
Yah ayahku 16 tahun sudah ..pergi dari kami...drama di ruang rumah sakit itu masih sangat jelas terasa sampai detik ini..tangisan mama yang histeris..raungan adik adik yang masih belum seberapa mengiris hatiku yang saat itu pun sedang bergumul dengan sakitku sendiri serta bergumul dengan kebimbanganku apakah terus melanjutkan menjadi imam atau mengundurkan diri karena aku harus menerima keputusan Uskup dan Dewannya bahwa saya tak diikutsertakan dalam tahbisan diakon dan imam tahun ini.
Setelah ayah dimandikan dan yang bertugas memandikan ayah menawarkan kepadaku apakah saya bersedia ikut memakaikan pakian kebesaran kepada ayah...tanpa berpikir...aku mengatakan siap!
Peristiwa candaku dengan ayah di kamar jenazah itu adalah canda seorang anak dan seorang jagoannya yang telah menyelesaikan “tugas pengabdiannya dengan sempurna”. Saya masih ingat baik ketika harus mengenakan pakian seragam kepolisian kebanggaannya...ketika memegang dan melekukan tangan dan lengannya agar pakiannya bisa masuk....memegang telapak tangannya...air mata saya berderai dalam canda...”ah tangan ini yang biasanya menuntun...memapah pasti ketika kami berjalan bersama...mencubit dan memukul kalau kami bandel...kini tak bertenaga dan berdaya lagi...kaki kaki yang seumur hidupnya tak pernah diam..kini kusam dan pucat...saya menangis waktu itu...’menangisi diriku yang belum sempat berbuat yang sedikitpun untuk dia yang seumur hidupnya hanya memberi dan terus memberi dan kesederhaanaannya terkadang memberi dari ketiadaannya...ketika memakainkan topi dinas kepolisian yang sangat dijunjungnya...saya secara spontan meminta semua yang ada dalm ruang jenazah memberikan penghormatan kepada ayahku...komandanku...komandan kami ...seorang purnawirawan polisi yang berhati ayah yang mencinta.
Hari ini 14 Februari 2012....16 tahun sudah...kenangan ini masih saja terus terlintas dengan jelas dalam ingatanku. Setiap kali mengingatnya saya meneteskan air mata..setiap tanggal 14 feberuari dunia merayakan hari Valentine saya justru terharu, sedih, dan memilih diam dan tenang di kamar...belum bisa keluar dari perangkap peristiwa kehilangan ayahanda di hari seperti ini. Suatu saat pada saat perayaan ekaristi pagi tgl 14 februari ketika saya masih sebagai frater muda berpraktek pastoral di paroki...anak anak asrama terkejut dan heran ...karena mereka melihat saya menangis sesenggukan sepanjang misa...pastor paroki yang sementara memimpin misa...tergganggu...ketika selesai komuni beliau bertanya ada apa frater? Saya hanya bilang “saya ingat ayah”...
Dini hari ini saya sudah berkomitment untuk mau meralakan kepergiaan ayah...ingin bergembira dan tersenyum kepada semua yang merayakan valentine day...oleh karena itu saya menuliskan tulisan ini..memaknai valentine ini dengan belajar dari kehidupan cinta dan kasih seorang anak manusia yang kami banggakan “Ayahku..ayah kami”
Saya sudah sering bercerita dan bercanda soal ibunda...di mana mana, di saat kulaih, di saat rekoleksi/retret/ceramah bahkan ibunda sering menjadi bahan untuk ketawa ketiwi antar kami saudara-saudari atau antar sobat sabait...itu tidak terjadi dengan cerita tentang ayah....saya sendiri tidak tahu kenapa....yang saya tahu ayah pergi ketika kami belum apa apa dan dalam kenyamanan...tatkala dia sudah tidak ada...Ibunda tampil dengan segala kemuliaan dan kebesaran seorang ibunda manusia yang pernah ada di dunia ini...pesona ibu bertarung dengan hidupnya dan hidup kami...”menyingkirkan” pesona seorang laki laki yang sangata dicintainya sampai saat ini...saking mencintai dan setia kepada suaminya...setiap kali menyebut nama suami atau berkisah tentangnya...selalu ada air mata...ah bunda ...kamu bergitu mencintai ayah...dan itu inspirasi untuk kami putra dan putrimu.
Ayah saya seorang yang disiplin dan tegas....semua kami dididik secara militer...kami sudah terbiasa dengan siraman air dingin ketika masih bermalas malas di tempat tidur di waktu pagi. Kami pun sudah tahu kalau tidak memberi makan kepada ternak babi sore hari maka tengah malampun harus bangun untuk mencarikan dan memberikan makanan buat binatang binatang itu...sudah biasa kalo tak mau mandi kami akan berkejaran keliling rumah dan berujung direndam dalam bak mandi sampai kedinginan...
Beliau seorang yang sangat hemat soal penggunaan keuangan...sangat pelit mengeluarkan uang buat kami untuk jajan...namun ketika semangat pelitnya lagi pergi...pisang goreng sebaskom dan es mambo setermospun diborognya hanya untuk menyenangkan kami anaka anaknya....
Ah ada begitu banyak kenangan indah bersamanya...isinkan saya melukiskan beberapa diantaranya yang sangat inspiratif dan menajdi falsafah kehidupan yang kuhidupi sekarang......
Ketika saya masih di SD dan ikut membela kesebelasan SD di kampung...sebagai striker yang paling mungil di antara semua pemain dan kalah...saya menangis karna kalah...beliau datang, memegang kepala saya dan mengangkat daguku sampai kedua bola mataku tepat berhadapan dengan tatapannya, dia beujar pelan, lembut, namun tegas : “Anak-anakku adalah orang-orang yang tak pernah menyerah...orang yang tak pernah kalah...kali berikut kamu pasti menang”..lalu menepuk  pundak dan berkata singkat...pergi bergabung dengan teman-temanmu...kata kata ini begitu bergelora dan memprovokasi hidup dan kehidupanku...tak menyerah..tak mau kalah dalam hidup..selalu yakin pasti bisa.
Suatu sore ketika ayah dan teman-teman sesama polisi lagi duduk bersama di POS Polisi...saya yang waktu itu sudah SMA dan menjadi anggota team sepakbola seminari...berseragam lengkap kostum sepakbola seminari berjalan di depan mereka menuju lapangan sepakbola, saya mendengar dengan jelas kata-katanya membanggakanku di hadapat teman-temannya; “ Itu dia saya punya anak (sambil menunjuk ke arahku)”
Itu dia saya punya anak...Kata kata ini begitu mempesonaku...energi positif yang mengalir dalam diriku memberikan aku rasa bangga, rasa dicintai, dan berarti di hadapan banyak orang teristimewa di antara teman temannya (ada beberapa teman ayah yang masih hidup sering mengulang-ulang kalimat ini setiap kali mereka bertemua dengan asaua). Ketika saya sudah di dalam Gereja Katedral Atambua siap hendak ditahbiskan imam...lalu Vikjen memanggil namaku: Diakon diakon yang hendak ditahbiskan mohon tampil ke depan: Diakon Yohanes...saat saya maju berjalan tenang dan pasti ke depan altar...disaksikan oleh ribuan orang yang hadir....”kata kata ayahku terdengar jelas..Itu dia saya punya anak...dalam suasana yang tegang aku tersenyum...ah ayahku pasti bangga melihatku dari keabadian..berjalan menuju altar untuk ditahbiskan...satu kerinduannya yang tak sampai...yang membuatnya pernah menangis sungguh sungguh karna bukanya takut untuk meninggal tetapi ...sedih/kecewa/marah dia takut tidak bisa melihatku ditahbiskan...dan itu terjadi.
Setelah tahbisan dan dalam refleksi-refleksiku saya baru menemukan: bukankah kata kata ayahku itu adalah versi lain dari “ada suara yang berseru dari langit: Inilah Putraku..kepadaNyalah Aku berkenan”. Apapun itu, kata kata ayah saya adalah berkat dan perutusan buatku...
Kami berdua tidak terlalu akrab dibanding kedekatan dia dengan adik-adikku yang lain (saya lebih dekat dengan ibuku sang negosiator dan pembela yang rela mati demiku hahaha)...kami berdua saling mengagumi satu sama lain tapi tak pernah secara langsung mengatakannya. Saya justru mendengar semua kebanggaannya padaku dari teman-temanku dan teman-temannya betapa bangganya dia padaku yang memberikan dia senyum dan rasa bangga karna prestasi-prestasiku.....
Setelah bertumbuh dewasa dari satu sekolah, dari satu tingkat pendidikan ke tingkat berikutnya...saya menyadari bahwa dalam diriku ada begitu banyak sifat dan karakternya yang ada dalamku (yang membuat istrinya ...ibundaku selalu mengatakan...kamu tuh seperti bapakmu...seandainya ayahku masih hidup dia akan juga bilang: kamu tuh seperti ibumu wkwkwkwk aku mewarisi sifat sifat keduanya yang menjadikan aku istimewa...hak kesulungan yang tak bisa diambil oleh siapapun hehehe)
Pernah sekali dalam canda berdua di hadapan bunda dan adik adik saya bertanya: Apakah bapak sangat aktif di gereja dan urusan agama ini, karna bapak mau cari muka dengan pastor dan umat biar saya mau jadi Imam? Jawabannya singkat, pendek, dan jelas: “Kamu tidak lahirpun saya tetap aktif di gereja”
Begitu aktif mengurus urusan di Paroki dan mengurus umat entah sebagai Ketua DPP atau tokoh umat cukup menyita waktunya....sampai sampai setiap hari pingin saja ke pastoran. Ada kisah menarik ...ayah saya walau ketua DPP dan aktif dalam kegiatan di paroki ternyata tak bisa mendoakan semua doa wajib (hahahahahahaha). Hal ini dbuktikan sendiri oleh pastor paroki kami ketika saat persiapan sambut baru dan salah seorang adikku ikut serta....saat giliran adikku...diapiti oleh ayah dan ibuku..berdiri di harapan Pastor paroki...adikku tentu lancar karena mau komuni pertama, apalagi ibunda...muder yang satu ini semua doa yang pernah ada didoakan dengan mantap dan adapula doa karangannya sendiri (hehehehe mom..you are the best! Hehehe)...tetapi ketika tiba giliran ayahku untuk diuji...Pastor memintanya mendoakan “doa Cinta”...ayahku diam...tak satu pun kata yang keluar dari mulutnya...mama marah-marah..adikku cemas dan takut nanti batal ikut komuni pertama...orang tua dan anak yang lain mulai tertawa...pastor paroki pun berujar..wah ketua DPP tidak tahu doa cinta! Ayahku dengan tenang dan penuh keyakinan menatap pastor paroki dan berkata: “Romo saya tidak bisa hafal doa cinta itu....yang pasti saya sudah dan sangat mencintai istri, anak dan keluarga saya, termasuk romo dan semua yang hadir di sini...” romonya terpaku dan malu malu melanjutkan dengan orang lain.
Ada begitu banyak hal yang luar biasa dari ayahku ini....menjadi inspirasi..menjadi falsafah hidup...menjadi kebijakan dan kebijaksanaan hidup yang indah...keterpesonaanku kepada ayahku justru saya sadari ketika beliau sudah pergi....waktu saya studi di manila dan diminta untuk menulis sebuah paper tentang orang paling berpengaruh dalam hidupku, saya menulis dua paper dengan penuh keyakinan; yang pertama kuberi judul: MY MOM: A WOMEN WITH A BIG HEART...yang kedua sudah pasti: MY DAD: MY HERO..
Hari Valentine ini ketika saya menuliskan sharing ini air mataku masih menetes...bukan lagi tetesan kesedihan....yang pasti adalah teter keterharuan...tetesan kebanggaan akan seorang tokoh yang tak sempat merasakan bersama putra-putrinya yang hidup, bertumbuh, dan berkembang sebagaimana yang ia harapakan..
Masih ada banyak kisah tersisa...masih tercecer kebijkasanaan dan falsafah hidup warisannya di sana sini....saya tak bisa merangkum semuanya dalam tulisan in memoriam ini...saya hanya bisa merangkumnya dalam judul tulisan ini: MY DAD: MY HERO and...MY VALENTINE....
Profisiat Ibunda....Mama telah mencintai dan setia kepada suamimu dan Ayah kami secara mengagumkan....
Adik adikku...selamat berbahagia...kita memiliki seorang ayah...yang luar biasa...tulislah dan ceritakanlah kisah cintamu masing-masing bersamanya...biarlah anak cucumu dan dunia mengetahui bahwa kita mempunyai seorang ayah yang luar biasa...
Buat sobat sabit semuanya....
Sayangilah ayah dan ibumu selagi masih hidup....biarkanlah mereka mengetahui apa yang hendak kamu katakan/tuliskan tentangnya dalam judulmu: In Memoriam....
HAPPY VALENTINE....
Unio Kramat VII No. 10
Dina hari, 14 feburari 2012
Rm. Yance Laka, Pr
Read more...

Rabu, 15 Februari 2012

WORKSHOP IMAM MUDA (0-10 Tahun Imamat) KEUSKUPAN ATAMBUA MENYAMBUT TAHUN BARU 20

0 komentar

PRAKATA
Hujan deras mengguyur Rumah Pastoral Emaus Atambua tak henti hentinya hari - hari ini. Deru angin  yang sekian keras dan dingin begitu menusuk. Listrik di Rumah Pastoral Emaus Atambua pun seakan tak sersahabat: seringkali padam. Keadaan alam yang tak bersahabat ini ternyata tak menyurutkan semangat para romo muda (0-10 thn imamat) Keuskupan Atambua  (KA) yang bergabung dalam kelompok  pengembangan /pemberdayaan diri minat bakat “JOHN PAUL II” yang sedang mengikuti Workshop  dalam bidang  “Event Organizer dan IT” tanggal 11-14 Januari 2011 di rumah pastoral ini.
Kelompok minat bakat Imam muda KA  “John Paul II” ini lahir dari rahim “Program On Going Formation Imam Projo (OGF) Keuskupan Atambua” yang diprakarsai Uskup Atambua dalam rangka memaknai Tahun Imam 2010. OGF Imam KA dimaksud   berlangsung dalam 2 gelombang (Gelombang I. Usia Imamat 0-5 thn: Tanggal 26 April – 01 Mei 2010 dan Gelombang II:  Usia Imamat 6-10 tahun: Tanggal 26-31 Agustus 2010). Setelah mengikuti OGF, para romo peserta program OGF ini bersepakat untuk melanjutkan proses pemberdayaan diri dalam satu kelompok yang lebih terorganisir dan terprogram secara baik, agar lebih maksimal memfasilitasi pengembangan diri, minat dan bakat para romo muda ini. Maka lahirlah kelompok John Paul II yang memfasilitasi kelompok imam yang berminat pada “Event Organizer dan IT”, Pastoral Pertanian, Pastoral Peternakan, Pastoral Perikanan, Pastoral Media Tulis/Elektronik, dan Pastoral Seni Musik dan Tari.
Workshop  ini dikemas dalam bentuk semi Traning for Trainers dengan metode pendekatan pola proses. Para romo sambil belajar ketrampilan pengolahan diri juga belajar mempersiapkan diri menjadi fasilitator-fasilitator handal, yang dibekali dengan kemampuan memanfaatkan teknologi/komputer untuk satu pewartaaan dan pastoral yang lebih mengena dan menyentuh.
HARI PERTAMA:  HARI PENGOLAHAN DIRI.
Para imam muda belajar metode pengolahan diri (“On Job Training”) sekaligus berproses untuk mengalamanya (“fisrt hand experience”). Pengolahan Diri  ini mengusung topik  yang unik meminjam pernyataan pernyataan populer dari beberapa ahli pengolahan diri.
Topik IWhere Have You Been So Far?”
Dalam sesi ini para romo dituntun untuk mengevaluasi diri secara jujur dengan berpedomankan hasil-hasil Program OGF setahun yang lalu. Para romo dalam semangat ugahari tampil apa adanya men-sharing-kan pengalaman hidup setelah OGF bersama. Entahkah rekomendasi-rekomendasi/resolusi-resolusi OGF itu ditindaklanjuti dalam hidup harian pribadi dan tugas pastoral serta dalam tugas hidup sebagai seorang anak manusia? Untuk memudahkan proses ini para romo diarahkan dengan beberapa pertanyaan penuntun terstruktur yang saling  menjelaskan.
Topik II:  “Are Fit for 2011?
Berbekalkan hasil “menukik ke dalam diri dan pengalaman hidup” di sessi pertama, para romo dibantu untuk membuat satu bentuk assesment diri yang jujur dan berprospek: apakah para romo siap untuk hidup di tahun 2011 ini, setelah melewati tahapan eforia pergantian tahun dan tahun baru yang sering kali menjebak para romo dalam kesibukkan ini dan itu dan “lengah” mempersiapkan diri secara benar untuk satu kehidupan yang lebih bermutu? Dalam sessi ini para romo dihadapkan pada rentetan pertanyaan refleksi yang menguji kebenaran/kejujuran menjawab pertanyaan refleksi di sessi terdahulu, karena proses di sessi kedua ini untuk menikdaklanjuti realitas diri yang mereka temukan pada proses sebelumya.
Topik III: “Getting Out From My Box
Mempelajari dan membandingkan hasil pergumulan sessi pertama dan sessi kedua, para romo dituntun untuk mencermati perulangan pilihan/kebiasaan/sikap/perilaku pribadi  yang tidak effektif dan meruntuhkan integritas diri sebagai imam serta memiskan kemampuan/ketrampilan/bakat pribadi dalam hidup dan pelayanan pastoral. Menarik untuk menyimak realisasi diri para romo yang pada umumnya mengamini bahwa: para romo “belum berani bahkan terkesan takut untuk bermimpi dan bercita cita besar” dalam hidup dan karya pastoral, dan yang lebih memprihatinkan adalah dalam hidup sehari hari dan dalam tugas pastoral para romo memasukkan diri dalam “box – box” bikinan sendiri. Hasil dari pemahaman seperi ini: hidup para romo muda menjadi monoton, gersang, tak menggairahkan, dan penuh intrik baik dalam tataran hidup pribadi pun dalam kehidupan komunitas para imam, serta dalam hidup bersama umat. Para romo dituntun untuk menidentifikasi “box box” apa saja yang merupakan “penjara” hidupnya selama ini.
Topik IV: “My Resolutions and Programs for 2011”
Setelah satu proses pergumulan dan pengolahan diri yang panjang, para romo belajar membuat resolusi pribadi yang benar dan perlu. Resolusi ini merupakan kristalisasi proses pengolahan diri hari ini, berdaya transformatif, berprospek, dan bisa dilaksanakan dalam hidup sehari hari dengan mudah. Dalam sessi ini juga para romo ditantang untuk membuat draft perencanaan hidup pribadi selama tahun 2011.
Seluruh proses hari ini ditutup dengan satu permenungan dan refleksi bersama untuk memaknai filosofi workshop ini: “The point of creativity is to express and challenge yourself, to make meaning, to embrace your life (Peggy Orenstein)
HARI KEDUA: HARI DINAMIKA KELOMPOK : TEORI DAN PRAKTEK!
Hari kedua ini para romo membaharui/menyegarkan kembali pengetahuan dan pemahaman bersama dan benar tentang “KEKAYAAN DINAMIKA KELOMPOK” yang selama ini dipahami secara sempit malah ada kesan memiskinkan kekayaan “dinamika kelompok” hanya pada sebatas satu bentuk permainan.  Pada sessi ini para romo disegarkan lagi dengan in put tentang kekayaan dinamika kelompok. 
Secara khusus kepada romo diberi pemahaman dan satu simulasi sederhana tentang bentuk dinamika kelompok “Structure Learning Experiences/Experience Learning Cyrcles: Peroses pembelajaran terstruktur” bentuk dinamika kelompok yang dipakai dalam program OGF Imam muda KA tahun 2010.
Setelah mendapatkan in put, para romo dibagi dalam kelompok untuk mendalami bahan in put dan ditantang untuk menciptakan model model permainan dinamika kelompok berdasarkan kategoti kategori permainan yang telah dipelajari. Para romo juga ditantang untuk menyusun satu model pendampingan untuk kategori Siswa/i SD, Siswa/i SMP, Siswa/i SMA, Orang Muda Katolik, dan Orang Dewasa. Sore hari kedua ini adalah sore simulasi dari 5 kelompok romo romo muda yang sungguh sungguh mempersiapkan bahan bahan pendampingan dengan mengusung Thema APP KA 2011: “MENATA KESEJATIAN HIDUP DALAM PERWUJUDAN DIRI”
Hari kedua workshop ini ditutup dengan satu permenungan bersama, membahas butir butir hasil analisa profil kepribadian para Imam Keuskupan Atambua yang dirangkum pada Acara Tahunan Evaluasi dan Perancanaan Program Pastoral Keuskupan Atambua 2010/2011 pada tgl 21-26 November 2010. Butir butir analisa dimaksud diantaranya:
1.      Secara perorangan para Imam KA memiliki pengetahuan/ketrampilan/sikap pastoral yang memadai.
2.      Secara kolegial/komunitas Imam KA: kualitas/keunggulan para Imam KA belum nampak/belum maksimal ditunjukkan.
3.      Kolaborasi-kerjasama dan “manegement of differences” di kalangan Imam KA mendesak untuk dilakukan.
4.      Pada saat/situasi sekarang ini, komunitas Imam KA seperti “raksasa” yang sedang tertidur pulas maka “raksasa” ini segera dibangunkan.
5.      Para Imam KA perlu belajar membangun kultur berkompetisi secara kreatif dan konstruktif.
6.      Para Imam KA perlu rendah hari bersama membudayakan kultur “mentorship
7.      Kerjasama kaum berjubah dan awam: kekuatan ajaib yang belum maksimal diexplorasi dan kekuatan kerjasama keduanya yang berdaya transformatif belum nampak dalam kehidupan menggereja di KA.
Sessi rangkuman ini mengkristal dalam satu pembaharuan komitment bersama para romo muda:   “TOGETHER WE ARE MAKING THE GIANT LEAP”
HARI KETIGA: HARI PELATIHAN KETRAMPILAN IT/MULTI MEDIA
Mengisi hari ketiga ini, pada sessi pertama, para romo dituntun untuk membuat program hidup pribadi di tahun 2011 dengan menggunakan pendekatan “MENTAL ROAD MAP FOR 2011”. Secara perlahan dan bertahap para romo belajar untuk mengalami dan memaknai proses “mental road map” yang merupakan kecambah dari apa yang sekarang dikenal dengan “berpikir visioner”.
Sessi kedua dan Ketiga hari ini diisi dengan pelatihan ketrampilan membuat video Clip dengan foto dan Video Clip dengan gambar bergerak/film hidup. Para romo muda begitu antusias dalam pelatihan pembuatan vidoe klip ini. Hari pelatihan berlansung seru. Para romo dengan suka cita mengoperasikan lap top dan “bermain main” dalam proses pembuatn video clip sederhana yang menggunakan program “Corel Video Studio”. Ada romo yang cepat dan cekatan, ada romo yang tertatih-tatih mengaplikasikan intruksi dari fasilatotor pelatihan ini. Para romo muda keliahatan sangat bergembira dan bersemangat dalam mengerjakan tugas yang diinstruksikan oleh fasilitator. Para romo seperti mendapatkan mainan baru yang akan dibawa pulang ke tempat tugas masing masing. Para romo mudapun berikhtiar akan terus belajar dan bertanya untuk memahirkan diri dalam membuat video clip untuk menunjang tugas pastoral mereka sehari hari.
PENUTUP
Workshop perdana para romo muda yang bergabung dalam Kelompok minat/bakat “JOHN PAUL II”  adalah buah Program OGF KA. Kelompok ini hadir sebagai satu bentuk kerja sama,salah santu model solidaritas yang saling memberdayakan dalam semangat kolegialitas rekan rekan imam muda usia imamat 0-10 tahun. Hal yang patut dicatat, seluruh biaya workshop adalah swadaya murni, hasil patungan para romo muda ini. Para romo muda secara sadar atau tak sadar, telah merintis dan mencatatkan pada lembaran OGF Keuskupan Atambua, apa artinya bersaudara dalam Imamat yang saling memberdayakan dan menyelamatkan.
Kegiatan Workshop perdana para imam muda ini sudah berakhir. Banyak sharing para romo muda yang mengapresiasi keseluruhan penyelenggaraan workshop, berikut proses-proses yang berlangsung selama workshop. Hasil dari workshop ini masih harus kita nantikan dalam hari-hari di tahun 2011. Para imam muda berbangga karena genderang pembelajaran sudah ditabuh dan proses pemberdayaan diri inisiatif para imam muda sendiri, telah diretas. Api kesadaran telah disulut seiring ajakan Uskup Atambua Mgr. Dominukius Saku, Pr, untuk menghidupi pola pikir baru...terlibat dalam “pastoral – revolusi perubahan pola pikir – revolusi perubahan “mind set”.
Secara pribadi saya sebagai imam medior di Keuskupan Atambua bergembira sekaligus berbagga dipilih oleh romo-romo muda ini sebagai fasilitator/pendamping mereka selama workshop. Saya berbahagia boleh memberi apa yang saya miliki. Saya bagikan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas dalam seluruh proses workshop. Saya sadar bahwa kepercayaan dari yunior-yunior saya ini juga  merupakan tantangan bagi saya untuk terus meng-upgrade-kan diri, berdiri sebagai contoh dan teladan, rendah hati untuk belajar bekerja sama dengan mereka, sekaligus sebagai pendukung mereka dalam memaknai hari hari hidup dan dalam tugas tugas pastoral sebagai Imam projo di Keuskuapan Atambua yang kami cintai. Terima kasih kepada Bpk. Agustinus Asit  Un dan Bpk. Frido Sirebein dari Dinas Perhubungan-Komunikasi dan Informatika (Dinas PKI) Kabupaten Belu, yang begitu berdedikasi dan sabar mendampingi para romo muda dalam sessi pelatihan ketrampilan membuat video clip.
Hari--hari workshop ini diawali dengan Ibadat Pagi dan Misa Pagi bersama menimba dan memohon kekuatan dan perlindungan Dia yang telah memanggil - mengutus imam – imam milik pusakaNya. Bersama Tuhan, bersama rekan rekan imam muda KA, dan dalam nama Tuhan kami sekali lagi memaklumkan yang satu ini: :  “TOGETHER WE ARE MAKING THE GIANT LEAP”. Semoga Dia yang telah memanggil dan mengutus kami memampukkan kami semua untuk tugas perutusan yang dipercayakan kepada kami...dan berkenan menyempurnakannya sesuai kehendakNya. Thanks God You Are Boss!
Rangkuman dan Laporan dari  Emaus Pastoral Center (EPC) Keuskupan Atambua
Rm. Yance Laka, Pr.
Tahun Orientasi Rohani Lo’o Damian Emaus Atambua
Read more...

BEGINING WITH THE END

0 komentar

BEGINING WITH THE END

Rangkaian  Perayaan Misa Arwah semalam dan Misa  Pemakaman Ibu Guruku serta prosesi pemakamannya hari ini luar biasa. Perayaan Ekaristi dimeriahkan oleh satu koor besar, gabungan 2 kelompok koor beken yang ada di Atambua: koor Abdi Praja dan Koor Maranatha binaannya, bernyanyi dengan segenap hati, memadahkan lagu lagu karya almarhumah sendiri. Menyaksikan dari dekat bagaimana para anggota koor bernyanyi sambil berlinangan air mata,  dibarengi isak tangis, menjadikan peristiwa kematian tokoh yang satu ini sungguh inspiratif.
Begitu banyak puja puji, litani kekaguman dan kesan kesan pribadi yang mendalam terdengar di sana sini oleh sanak keluarga, para collega, dan mantan anak anak didiknya. Semuanya indah. Semuanya bernilai. Semuanya begitu meyakinkan. Satu kesimpulan yang singkat dan tepat: dia sungguh orang baik. Saya jadi ingat pendapat seorang filsuf yang mengatakan: orang baik tidak pernah mati. Ia tetap hidup dalam puja puji, dalam kekaguman, dalam kenangan orang orang yang mencintai kebaikkan yang telah dijalani selama hari hari hidupnya. Orang baik tidak pernah mati karena dari kehidupannya selalu mengalir inspirasi – spirit – daya hidup yang “menciptakan” dunia baru, hati baru dalam diri orang lain. Benarlah kata kata sang pemazmur tentang orang baik:
Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya, apa saja yang diperbuatnya berhasil....”(Mzm 1:3)
Dalam tataran pemaknaan pengolahan diri yang integral, peristiwa inspiratif dari prosesi pemakaman ibu guru ini sangat bernas menjelaskan salah satu konsep  Stefen Covey tentang “ 7 Kebiasaan Manusia Yang sangat Efektif” : Begining with The End diindonesiakan secara bebas: “Merujuk Pada Tujuan Akhir.”  Menghidupi dan memaknai hari - hari hidup secara benar dan bermakna ..dengan memulai hidup hari ini dengan bayangan, gambaran, atau paradigma akhir kehidupan kita .Hiduplah dengan kualitas yang anda ingin/harap orang bicarakan tentang Anda di hari pemakaman atau di saat Anda sudah tidak ada lagi.
Saya becermin pada eulogi yang saya kotbahkan malam itu, saya berkaca pada ungkapan rasa keluarga yang ditinggalkan, saya bermenung dalam deretan puja piji sahabat dan handai tolan tentang ibu guruku. Apa yang aku harapkan orang berbicara tentangku di hari pemakamanku? Pertanyaan refleksi retoris yang mengusik sampe ke sumsum kesadaranku yang paling dalam. Saya seolah olah berhadapan dengan sebuah cermin raksasa yang tanpa malu memantulkan siapakah aku sebenarnya dalam hidupku hari hari ini. Ada sisi terang. Ada sisi gelap. Ada sisi cerah. Ada sisi mendung. Ada lampu hijau. Ada lampu kuning..bahkan lampu merah dalam ziarah hidupku. Saya terpana, ternyata bukan lagi kematian Ibu guruku yang sedang kugumuli, tetapi soal kehidupanku yang sedang kuakrabi. Ah dalam setiap peristiwa kematian selalu ada kehidupan baru. Dalam suasana duka, selalu ada harapan baru.
Peristiwa kehidupan, peristiwa harapan baru, peristiwa kesadaran baru yang lahir dari kekayaan misteri meninggalnya Ibu Guruku ini tepat mengawali ziarah hidup di tahun 2011. Satu momentum berahmat yang memberi karakter transformatif bagi setiap orang yang ingin hidup sadar. Satu tahapan persiapan yang menjanjikkan sekaligus menantang di tahun 2011. Pertanyaan saya, pertanyaan kita adalah  akan menjadi seperti apakah saya/kita  di tahun 2011? Who am i meant to be? Apa yang ingin saya syukuri pada tanggl 31 desember 2011 nanti sebagai buah proses pendewasaan diri yang integral dan transformati selama tahun 2011?
Inilah panggilan sekaligus perutusan kita di tahun 2011.  Saya dan Anda dipanggil dan diutus untuk menjadikan dunia 2011 semakin berwajah manusia, lebih tepat berwajah Ilahi, karena setiap kita berlomba lomba untuk hidup dengan pola pikir, paradigma “Merujuk Pada Tujuan Akhir!”. Semua kita berlomba lomba menghidupi hidup dengan kualitas – kualitas Ilahi yang potensial telah ditanam, ditaburNya sejak kita ada dalam rahim ibunda.
Last but not the least, apapun itu yang kita canangkan untuk hidup pribadi, hidup komunitas, hidup banyak orang di tahun 2011, atau di tahun – tahun mendatang, satu sikap bathin yang pantas, satu bentuk perwujutan iman yang berkarakter, satu manifestasi keyakinan akan campur tanganNya dalam hidup setiap kita adalah tetap bersyukur dan terus bersyukur dan semakin bersyukur.
Madah syukur yang dinyanyikan sebagai lagu penutup pada Perayaan Ekaristi Pemakaman Ibu Guruku itu saya pinjam sebagai madah syukur kita bersama. Syukur diberi pencerahan. Syukur dimahkotai kesadaran. Syukur diilhami kemampuan menukik ke dalam diri, sehingga boleh sampai pada cetusan tertulis ini. Mari kita bermadah bersama: tu, dua, ga.....:
Syukur padaMu oh Tuhan, karena rahmat dan kasihMu yang selalu menyertaiku sepanjang hidupku. Syukur pada Tuhan.
Dalam suka maupun duka, bahagia ataupun derita, hatiku tetap bermadah sepanjang hidupku. Syukur pada Tuhan.
Puji syukur Tuhan tak berhingga, kuhaturkan padaMu setiap hari, seluruh hidupku akan menjadi pernyataan syukur pada Tuhan.
Meskipun hidupku penuh pencobaan, kutetap percaya pada kasihNya. Seluruh hidupku akan menjadi pernyataan syukur pada Tuhan.
Seluruh hidupku akan menjadi pernyataan syukur pada Tuhan”.
                                                                                        
Shalom dari Noemuti, Rumah Ibunda Petronela.
Rm. Yance Laka, Pr.
TOR LO’O Damian Emaus Atambua
Read more...

IBU GURU ITU..TELAH PERGI! (Eulogiku untuk Alm. Ibu Agnes PF. Assy)

0 komentar

IBU GURU ITU..TELAH PERGI!  (Eulogiku untuk Alm. Ibu Agnes PF. Assy)

Pagi hari ini saya dikejutkan  oleh telpon seorang sahabatku...” Ibu Agnes PF. Assy, telah meninggal dunia pagi ini”. Tak lama kemudian silih berganti masuk sms dari teman-teman sekolah dan rekan-rekan kerja pastoral Keuskupan Atambua memberitakan hal yang sama: “Ibu Agnes telah meninggal dunia”.
Pertemuanku dengan almarhumah yang terakhir pada tanggal 7 Desember 2010, ketika beliau mampir ke seminari kami, mengunjungi ponakkannya yang akan menerima Jubah esok harinya tgl. 8 Desember 2010. Sebelum pamit pulang beliau hanya bilang: “Anak (demikian dia selalu memanggil kami mantan murid muridnya) tetaplah menjadi Imam yang saya banggakan. Kamu luar biasa akhir akhir ini...sebagai gurumu saya bangga!
Makan pagi kami hari ini penuh dengan nostalgia tentang “Ibu Agnes Assy”, seorang istri, seorang Ibu, Seorang artis, saya lebih bangga memanggilnya: Ibu Guruku.
Sebagai seorang istri, beliau sudah menunjukkan kesetiaannya yang tak terbantahkan dalam suka maupun duka mendampingi Bpk. Anton Talul, yang juga adalah seorang pensiunan guru yang sangat sederhana dan bersahaja. Kebesaran jiwanya teruji ketika ibu Agnes harus bersusah susah, berlinang air mata, dan terkadang stress dan tekanan bathin yang panjang mendampingi sumainya yang berjuang mendapatkan pesangon di hari tuanya, setelah puluhan tahun mengabdi di salah satu sekolah swasta di kota ini.
Kebesarannya semakin nyata ketika dia sadar dan tahu bahwa dia dan suaminya bisa saja mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan segalanya....bertaruh: mereka pasti mendapatkan apa yang menjadi hak mereka secara cepat malah bisa mendapat “tambahan” berlipat karena perlakuan manusia manusia berhati singa yang teganya mem-pimpong hak orang lain lantaran manejemen busuk tak terurus secara benar. Di saat saat yang paling kritis dan membutuhkan ketegaran karna hak suaminya seolah tak berujung, dalam satu perjumpaan dengannya, beliau hanya berujar kepadaku: “Anak tak apa...rupanya orang orang itu berhati batu dan bermata buta sehingga tidak dapat merasakan derita kami yang sederhana ini...kami tidak meminta minta...kami hanya mau menerima investasi waktu dan cinta kami, hak suami saya sekian tahun di lembaga yang sangat kita banggakan ini”. Air mata tumpah....menetes deras...yang membesarkan hati...di akhir derai air matanya...selalu ada senyum....senyum harapan. Senyum seorang istri yang tegar. Senyum seorang istri yang yakin bahwa suaminya akan mendapatkan apa yang menjadi haknya. Betulah...akhirnya dengan tenang dan sabar mereka menerima apa yang menjadi hak mereka...
Sebagai seorang Ibu dari dua orang putranya...tak pernah ada kata yang keluar dari mulutnya bercerita atau membanggakan dua orang putranya yang mewarisi sebagaian besar bakat seni dalam dirinya. Beliau selalu berkata pendek...mereka baik baik dan selalu beliau ingatkan untuk sungguh sungguh belajar dan hidup...karena menurut beliau...akan sangat memalukan dan itu adalah malapetaka kalau anak kandungnya sendiri tak bisa ia besarkan secara benar dan sukses.
Sebagai seorang artis, semua orang Atambua tahu, semua mantan anak muridnya tahu, seluruh umat Keuskupan Atambua tahu, siapakah seorang Ibu Agnes Assy itu?  Hidupnya adalah seni. Hidupnya adalah Nyanyi. Nyanyi adalah hidupnya. Jejak langkahnya sekian puluh tahun di belantika musik liturgi Keuskupan Atambua sangat jelas menampakkan ketokohannya di bidang yang satu ini. Nafasnya adalah nyanyian. Lirik lirik lagu adalah doa doanya. Berlatih koor dari satu tempat ke tempat yang lain adalah ibadahnya. Hidup dan kehidupannya adalah kidung pujian seorang anak manusia yang beriman, yang mengekspresikan cinta kepadaNya lewat semangat tak kenal lelah berpastoral dan bermisi di bidang musik liturgi. Semangat dan energi seolah tak pernah surut ketika itu soal menyanyi. Enthusiasmenya membual...mengalir...memberi kehidupan kepada semua yang menghargai-mencintai lagu dan koor. Kecintaanya yang luar biasa akan musik ini sedemikan menyatu dalam hidupnya sehingga ketika orang menyebut nama Agnes Assy yang pertama melintas dalam benak orang adalah Nyanyi dan Koor. Reputasinya di bidang olah vokal tak perlu diragukan lagi. Panggung peristiwa - peristiwa besar di keuskupan Atambua dan Kabupaten Belu telah menjadi saksi kepiawian sang artis..sang maestro...sang dirigen...sang seniman ulung yang ketika sedang berlatih koor lupa akan lapar dan dahaga, ketika sedang menjadi dirigen...gemulai tangannya menjadi satu untaian lagu dan tari, menyapa, membelai jiwa dan sukma, sampai pada menyihir dan mempesona semua orang untuk berguman; Ah Tuhan Betapa Mulianya NamaMu! Dia benar menghayati spiritualitas seoang artis diregen sejati yang paham dan yakin betul akan adigium Latin ini: QUI BENE CANTAT BIS ORAT: Yang bernyanyi dengan baik – berdoa dua kali!
Sebagai seorang Guru...dia sungguh seorang Guru yang sejati. Beliau seorang yang cerdas, seorang berdisiplin tinggi, seorang yang teguh dalam prinsip dan pendirian seorang pedagog sejati. Langkah langkahnya di lorong lorong SMP Don Bosco adalah ajakan tanpa suara bagi semua muridnya untuk segera menertibkan diri. Tatapan matanya yang tajam dengan mudahnya memilah kebohongan dan kemunafikan murid muridnya di ruang kelas. Lengkingan suaranya saat mengajar menegaskan kepada para muridnya bahwa ada hal penting yang sedang dia bicarakan bernilai kehidupan, senyumnya yang khas adalah pujian membesarkan hati dan jiwa murid muridnya yang terkadang mulai takut dan grogi dengan kehadirannya yang sangat mendikte suasana hati setiap anak didiknya.
Saya menjadi salah seorang muridnya di SMP Don Bosco tahun 1981-1983. Bertemu dengannya dalam pelajaran Seni Musik dan Bahasa Inggris selama 3 tahun telah menggoreskan begitu banyak cerita indah yang tak bosan bosannya saya ceritakan berulang ulang kali ketika bertemu dengan dia.
Satu hal yang konyol sekedar bernostalgia: di usia remaja SMP....saat puber sedang merebak...suaraku berubah ubah seiring usia pergolakkan...jangankan menyanyi...berbicara saja suaraku tak karuan...betapa menantangnya saat itu ketika saya harus menyanyikan sebuah lagi sebagai bagian dari Ujian Praktek Seni Musik....wah wah...saking gugup dan takutnya saya....tak sadar saya hanya menyanyikan refrain lagunya saja (hehehehehehe). Di luar dugaanku ketika seluruh teman kelasku waktu itu tertawa...tiba tiba terdengarlah suaranya yang membesarkan hati:...Yance...kamu bernyanyi bagus...Kamu dapat nilai 7,5 (hahahahahaha)...nilai tertinggi dalam bidang tarik suara yang pernah saya dapatkan seumur hidupku( hahahahaha). Jauh jauh hari setelah saya tamat dan punya keberanian untuk bertanya tentang kebenaran nilai ujian praktek itu...beliau berujar pasti: “Kamu berhak mendapatkannya. Usahamu dan Kesungguhanmu untuk menyayi...lebih meyakinkan saya ...suara pada  saatnya akan merdu ketika engkau mengerti untuk apa kamu bernyanyi “ (wah wah wah....)
Hal lain yang sangat inspiratif dan meneguhkanku secara pribadi: setiap kali setelah menghadiri perayaan Ekaristi yang saya pimpin dan saya berkotbah...dia selalu menjadi orang pertama yang menemuiku dan berujar: Anak kotbahmu bagus...saya bangga pernah menjadi gurumu! Terkadang sangat menggelikan dan menjadi tantangan tersendiri ketika saya berceramah dan beliau hadir sebagai salah satu pesertanya....dia hanya tersenyum dan mengangguk angguk seakan begitu percaya dan yakin akan semua kata yang keluar dari mulutku. Sehabis ceramah, lagi lagi dia tersenyum lebar dan menjabat erat tanganku dan berujar:  ‘Anak, kamu hebat! Saya bangga pernah menjadi Gurumu ‘. Peneguhan – Affirmasi....pujian tak pernah berhenti keluar dari mulutnya untuk setiap anak didiknya yang berhasil. Beliau mudah dan tak kikir memberikan pujian dan peneguhan. Benarlah...dia sungguh seorang Guru yang sejati.
Sobat sobatku, masih ada sejuta cerita melukiskan kebesaran seorang Guruku ini. Saya berbangga diberi kepercayaan oleh Pastor Paroki Katedral Atambua untuk berkotbah dalam misa arwah besok di rumahnya. Saya akan dan selalu bercerita tentang pribadi besar yang dengan caranya yang unik telah turut berperan menjadikan saya seperti yang sekarang ini. Saya akan membawakan kotbah terbaik yang pernah saya kotbahkan ....karena kotbah yang keluar dari kelimpahan hati seorang murid yang berbagga akan Ibu Gurunya.
Ibu Agnes...selamat jalan. Para malaikat tentu bersukacita karena mendapatkan seorang dirigen terbaik untuk koor mereka...Ibu, perdengarkanlah maklumat natal bersama para mailakatmu untuk kami....”Hari ini telah lahir bagimu seorang Juruselamat di Kota Daud....Damai di Bumi bagi setiap orang yang percaya kepadaNya
Doakan aku, doakan kami murid miridmu yang sedang memaknai hidup ini. Rest In Peace!
Rm. Yance Laka, Pr.
TOR Lo’o Damian Emaus – Atambua
Read more...

SYUKUR

0 komentar

SYUKUR

Aku memasuki minggu ke-2 bulan Januari 2012. Resolusi – resolusi pribadi perlahan mencari bentuk dalam keseharian hidup. Selama kurang lebih 11 hari ini adalah masa pancaroba, masa bongkar pasang, maju mundur, semuanya masih dalam tataran dinamika eforia tahun baru. Pada saat saat seperti ini  kelenturan mental mulai teruji. Ketahanan psikis mulai diobrak abrik. Kehendak baik  mulai mencari  bentuk manifestasinya. Disiplin diri sudah bisa dikomentari. Prioritas dan fokus dalam hidup berada dalam tantangan pemantapan dan pematangan.
Apapun itu situasinya satu hal yang pasti dalam hari hari ini:  AKU BERSYUKUR. Saya terus bersyukur untuk hari hari hidup yang kujalani dengan sadar. Aku bersyukur untuk berkat pribadi pribadi besar dan penting yang hadir dalam rentang waktu singkat ini yang begitu meneguhkanku. Aku besryukur untuk pengalaman pengalaman indah dan menantang. Aku bersyukur karena semuanya adalah surat cinta Allah yang kubaca dalam hari hari hidupku. Aku temukana di sana tertulis tersirat indah: “YOU ARE ON THE RIGHT TRACK SO FAR!”
Rasa syukur ini memberikanku rasa damai – tenang. Kedamaian ini memberikan energi kehidupan untuk terus hidup lebih sadar dan hidup kaya arti/makna. Kedamaian ini meyakinkan aku akan cinta dan perlindungan Tuhan dalam hidupku.  Rasa syukur yang mengalirkan kedamaian – ketenangan bathin memberi dasar yang kokoh kepada keyakinan imanku bahwa Allah selalu setia akan janji janjiNya kepadaku: “Aku akan menyertai engkau sampai ke ujung bumi”.
Aku bersujud dalam doa  dan Ekaristi yang khusuk. Aku bermadah dalam mazmur kehidupan yang satu ke mazmur kehidupan yang lainnya. Aku  yang rapuh-lemah-terbatas ini mendapatkan cintaNya yang sedemikian dasyat, aku sangat berarti bagiNya.
Rasa syukur yang mengalirkan kedamaian dan ketenangan bathin ini terus menuntunku menghargai sikap metanoia, pertobatan hati – pertobatan hidup yang terus menerus. Sikap ini memberikan kesempatan kepadaku untuk merasakan apa artinya menjadi inspirator, motivator, animator, dan terlebih transformator dalam hidup bersama sehari hari.  Kehidupanku semakin berarti, kehadiranku menolong orang lain untuk menemukan inspirasi untuk maju. Apa yang akau katakan dan lakukan menggairahkan orang lain untuk hidup lebih bermakna.  Apa yang aku alami dan hidupi, kekuatan dan semangatNya dalam diriku memberi semangat bagi yang nyaris kehilangan arah dan mengalami disorientasi arah hidup. Aku bersyukur aku boleh menggerakkan hati dan hidup orang orang di sekelilingku untuk terlibat secara aktif dalam revolusi membaharui diri secara bermakna!
Aku semakin pasrah dan percaya pada rencana rencanaNya dalam hidupku. Hatiku berkobar kobar. Semangatku bernyala-nyala. Aku siap terus berlangkah dengan pasti: “INI AKU, UTUSLAH AKU!”
Rm. Yance Laka, Pr.
TOR Lo’o Damian Emaus – Atambua
Read more...

IBUNDA

0 komentar

IBUNDA...
Tiga hari aku berkesempatan merayakan “libur tahun baru” bersama ibuku yang sudah janda. Ibundaku yang sudah berusia menjelang 63 tahun. Ibunda yang semangat hidupnya mengalahkan serangan jantung di hari tuanya
Aku suka setiap kembali ke rumah: bercanda, bercengkrama dengan sang pemilik rahim yang melahirkanku ke dunai ini.
Selama tiga hari kembali ke rumah...terkadang tanpa dia sadari, aku memandang dan terus mendangnya...di saat dia lagi asyik bekerja, ketika dia aksyik bercerita dengan tetangga, tatkala dia asyik bercanda dengan cucu-cucunya, pokoknya hanya memandang dan terus menandannya tanpa bosan.
Hal yang sangat kukaguni dalam diri ibundaku adalah senyumnya. Senyum yang membuatku terpana akan kekuatan dan daya hidup yang menyertainya. Senyum yang menyambutku turun dari bus travel. Senyam yang menanti aku turun  dari mobil. Senyum tak sabar menanti aku membuka helm dari kepalaku. Senyum memandang kami anak anak, beradik kaka berdebat kusir soal sepele yang ujung-ujung hanya untuk saling memperdaya. Ibundaku selalu tersenyum dan tersenyum dalam hari hari hidupnya entah suka, entah duka. Entah panas, entah dingin, entah berhasil entah gagal...ibunda adalah senyum...senyumnya adalah bahasanya yang melintas ruang dan waktu bagiku, bagi kami anak anaknya.
Aku menemukan dan mersakan kedamaian dalam setiap senyumnya. Kedamaian yang mengalir dari kebesaran, kekuatan, dan kekayaan hati seorang ibunda. Kedamaian yang menenangkan – menghidupkan aku 9 bulan dalam rahimnya. Kedamaian yang mengalirkan air susu cinta dan kehidupan yang kusantap semasa aku bayi dan kanak kanak. Kedamaian yang memancar dari ketegaran menjalani hidup sebagai seorang istri yang ditinggal mati suaminya.
Dalam kedamaian yang muncul, aku merasakan kebanggaan seorang ibu akan putra sulungnya. Bangga akan darah dan dagingnya yang telah dewasa. Bangga akan kata kata cintanya telah memanusiakan putra dan putrinya menjadi pribadi yang menjanjikan masa depan. Bangga karena roh kehidupan yang sehat telah ia wariskan secara benar kepada puta dan putrinya.
Kebanggaan akan ibu mempertemukanku dengan aspek lain dari kebesarannya: kerelaan. Kerelaan yang sering kali ia mengertinya sebagai korban. Ibu mengorbankan segalagalanya untuk masa depan dan hidup buah bauh hatinya. Yah kerelaan yang menakjubkan. Kerelaan yang memberinya energi untuk selalu bangun terlebih dahulu diwaktu pagi dan pergi tidur paling terakhir setelah memanstikan semua pintu dan jendela rapi tertutup. Kerelaannya menemani anak anaknya. Kerelaannya untuk menunda  memprioritaskan dirinya sebagai  yang utama.
Dalam kerelaan ibuku, aku menemukan keikhlasan. Keikhlasannya untuk menunda kesenangannya yang egois hanya untuk mendegar cerita cerita konyol dari anak anaknya. Keikhlasan dalam diri ibuku menyadarkan aku akan  makna kesetiaan. Kesetian seorang ibu mengerjakan tugas – tugasnya yang sama  dan berulang ulang. Kesetiaan seorang ibu  akan janji janjinya. Ternya ia setia pada perayaan HUT pernikahannya, Senyum ibunda menyapa semua kami yang bergundah gulanah.
Kesetiaan ibu menuntun aku  menemukan dan menyadari /hadirnya CINTA dalam senyumnya. Cinta kepada Allah dalam untaian doa doanya saban hari. Cinta kepada Bunda Maria tempatnya mengadu, memberontak, menangis, dan bingung. Cinta yang mendidik anak anaknya yang 11 orang. Cinta yang memberikan pengharapan kepada putra dan putrinya untuk senantiasa terbuka kepada campur tangan Allah dalam hidupnya yang terbatas.
Dalam cinta ibuku aku menemukan – menyadari- dan berjumpa  dengan Tuhanku yang menenun aku dalam rahim ibuku, yang melecut kebanggaan ibuku akan misteri penciptaan manusia yang ia emban. Tuhan yang kujumpai dalam senyum ibu itu memampukan dia tegar mengahadapi setiap sakit. Senyum ibu menghadirkan dan membahasakan keikhlasan Pencipta memberi dan terus memberi  semangat hidup bagi orang orang yang tidak mau maju. Dalam cinta ibuku aku berjumpa dengan Tuhan yang setia mendidik semua orang dengan caranya yang khas dan unique. Ah..masih banyak lagi....Hmm senyum ibu mempesona. Senyum ibuku adalah ibadah. Senyum ibuku adalah misteri penciptaanNya. Ternyata senyum ibunda ini telah menjadikan aku seperti ini.
Hari sudah menjelang dini hari...
Segalanya telah disampaikan.
Segalanya tentang senyum ibunda
Pesona senyum ibuku masih dan akan terus senyum...
Shalom;
Rm. Yance Laka, Pr
Seminari Tinggi TOR Lo’o Damian Emaus – Atambua
Read more...